Sabtu, 28 Desember 2013

LAGU ITU GUE BANGET

Bisa menyanyi solo di depan banyak orang adalah impianku sejak kecil. Dimana setiap orang akan bertepuk tangan terkagum-kagum mendengar suaraku. Semua orang akan terpaku mendengarkan keahlianku menyanyikan sebuah lagu. Tapi, apa yang aku alami tidaklah sesuai dengan apa yang ku ingini. Singkat cerita, ada acara farewell party di kampus. Aku mendapatkan tugas untuk bermain drama dan menyanyikan sebuah lagu. Aku memilih sebuah lagu barat yang berjudul “Right Here Waiting for You” by Richard. Aku suka lagu itu, dan bagiku menyanyikan lagu itu sesuai dengan jenis suaraku. Sebelum hari H aku tidak pernah latihan menyanyi dikarenakan Bapak yang bertugas mengiringiku saat  menyanyi tidak memiliki waktu luang untuk latihan. Maka dari itu aku hanya konsentrasi untuk berlatih drama.
Hari dimana acara dimulai, aku menghampiri Bapak tersebut dan meminta beliau untuk mengiringiku menyanyikan lagu Richard. Awalnya tanggapan Bapak kurang enak. Beliau berkata kepadaku bahwa lagu ini sudah sering dinyanyikan, dan sudah bosan mengiringi lagu tersebut. Aku diminta untuk menyanyikan lagu lain. Akan tetapi, bagiku dari semua lagu, lagu inilah yang paling mudah dan sesuai dengan jenis suaraku. Aku nggak sanggup kalau harus menyanyikan soundtrack dari Titanic tanpa latihan. Padahal waktu aku tampil kurang satu jam lagi, dan aku tidak mau tampil bodoh dan kurang maksimal gara-gara ganti lagu secara dadakan. Jadi akhirnya mau tidak mau, suka maupun tidak suka si bapak haruss mau mengiringiku.
Saat aku tampil, aku menyanyi dengan segenap hati dan jiwa. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran orang lain. Yang ada di pikiranku saat itu adalah aku harus bernyanyi, aku tidak peduli bagaimanapun hasilnya karena ini adalah penampilan perdanaku untuk bernyanyi solo.
Setelah aku selesai tampil, setiap orang bertepuk tangan kepadaku. Tepuk tangan yang aku harapkan dari dulu, tepuk tangan yang membuatku bahagia, bangga terhadap diriku sendiri, tepuk tangan yang menyanjungku. Akan tetapi aku sama sekali tidak merasakan bahagia, aku tidak merasakan suka cita yang menggebu-gebu. Saat aku turun dari panggung. Bapak yang semula kurang suka dengan lagu pilihanku langsung menyambutku dengan wajah berseri-seri. Beliau berkata kepadaku bahwa semua penonton terkagum-kagum saat aku menyanyi. Semua takjub akan bakat tersembunyiku. Dan semua bertepuk tangan untukku. Beliau mengungkapkan kepadaku kalau beliau banggan akan diriku. Akan tetapi aku merasa tidak ada hal yang istimewa dari itu. Aku berlalu dengan senyum datar tanpa ekspresi ceria seperti apa yang aku harapkan sebelumnya. Tidak cukup sampai disitu, saat aku baru melangkah beberapa langkah, bapak pemilik persewaan panggung langsung mendatangiku. Bapak-bapak tersebut memujiku dengan menggebu-gebu dan terkagum-kagum, malah mereka merekomendasikanku untuk ikut menyanyi dengan elektone si Bapak tadi supaya bisa menambah uang saku dan mengembangkan bakat. Tapi hal itu tetap tidak menggugah hati nuraniku, aku hanya tersenyum datar dan berlalu.
Yang ada di benakku saat ini adalah, kenapa tidak ada orang yang sadar. Sadar akan apa makna di balik lagu itu. Apa karena lagu itu berbahasa inggris sehingga orang-orang tidak tahu apa artinya. Atau benar-benar tidak tahu kalau aku tadi menyanyi dengan segenap hati dan hampir menagis menggebu-gebu di atas panggung. Tadi aku bukan menyanyi, tapi aku sedang curhat. Mencurahkan segenap perasaan yang membebabiku. Mencurahkan apa yang sedang aku rasakan. Sebenarnya aku bukan menyanyi, tapi aku tadi berteriak dan menjerit. Hatiku menangis, menangis karena patah hati. Di sana, di atas panggung itu aku mengungkapkan bahwa aku akan menunggunya, menunggu sampai kapanpun dan aku akan tetap mencintainya. Wajahku sudah memerah, air mataku sudah mulai jatuh, tapi mungkin karena aku memakai make up tebal, orang-orang tidak menyadari bahwa aku mulai menangis. Menagis karena dua hari sebelumnya aku patah hati, dua hari sebelum aku menampilkan bakat tersembunyiku aku putus cinta. Dan lagu yang aku pilih sebulan sebelum penampilanku, bisa sesuai dengan suasana hatiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar