Bisa menyanyi solo di
depan banyak orang adalah impianku sejak kecil. Dimana setiap orang akan
bertepuk tangan terkagum-kagum mendengar suaraku. Semua orang akan terpaku
mendengarkan keahlianku menyanyikan sebuah lagu. Tapi, apa yang aku alami
tidaklah sesuai dengan apa yang ku ingini. Singkat cerita, ada acara farewell party
di kampus. Aku mendapatkan tugas untuk bermain drama dan menyanyikan sebuah
lagu. Aku memilih sebuah lagu barat yang berjudul “Right Here Waiting for You”
by Richard. Aku suka lagu itu, dan bagiku menyanyikan lagu itu sesuai dengan
jenis suaraku. Sebelum hari H aku tidak pernah latihan menyanyi dikarenakan
Bapak yang bertugas mengiringiku saat
menyanyi tidak memiliki waktu luang untuk latihan. Maka dari itu aku hanya
konsentrasi untuk berlatih drama.
Hari dimana acara dimulai,
aku menghampiri Bapak tersebut dan meminta beliau untuk mengiringiku
menyanyikan lagu Richard. Awalnya tanggapan Bapak kurang enak. Beliau berkata
kepadaku bahwa lagu ini sudah sering dinyanyikan, dan sudah bosan mengiringi
lagu tersebut. Aku diminta untuk menyanyikan lagu lain. Akan tetapi, bagiku
dari semua lagu, lagu inilah yang paling mudah dan sesuai dengan jenis suaraku.
Aku nggak sanggup kalau harus menyanyikan soundtrack dari Titanic tanpa
latihan. Padahal waktu aku tampil kurang satu jam lagi, dan aku tidak mau
tampil bodoh dan kurang maksimal gara-gara ganti lagu secara dadakan. Jadi akhirnya
mau tidak mau, suka maupun tidak suka si bapak haruss mau mengiringiku.
Saat aku tampil, aku
menyanyi dengan segenap hati dan jiwa. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran
orang lain. Yang ada di pikiranku saat itu adalah aku harus bernyanyi, aku
tidak peduli bagaimanapun hasilnya karena ini adalah penampilan perdanaku untuk
bernyanyi solo.
Setelah aku selesai tampil,
setiap orang bertepuk tangan kepadaku. Tepuk tangan yang aku harapkan dari
dulu, tepuk tangan yang membuatku bahagia, bangga terhadap diriku sendiri,
tepuk tangan yang menyanjungku. Akan tetapi aku sama sekali tidak merasakan
bahagia, aku tidak merasakan suka cita yang menggebu-gebu. Saat aku turun dari
panggung. Bapak yang semula kurang suka dengan lagu pilihanku langsung
menyambutku dengan wajah berseri-seri. Beliau berkata kepadaku bahwa semua
penonton terkagum-kagum saat aku menyanyi. Semua takjub akan bakat
tersembunyiku. Dan semua bertepuk tangan untukku. Beliau mengungkapkan kepadaku
kalau beliau banggan akan diriku. Akan tetapi aku merasa tidak ada hal yang
istimewa dari itu. Aku berlalu dengan senyum datar tanpa ekspresi ceria seperti
apa yang aku harapkan sebelumnya. Tidak cukup sampai disitu, saat aku baru
melangkah beberapa langkah, bapak pemilik persewaan panggung langsung
mendatangiku. Bapak-bapak tersebut memujiku dengan menggebu-gebu dan
terkagum-kagum, malah mereka merekomendasikanku untuk ikut menyanyi dengan
elektone si Bapak tadi supaya bisa menambah uang saku dan mengembangkan bakat. Tapi
hal itu tetap tidak menggugah hati nuraniku, aku hanya tersenyum datar dan
berlalu.
Yang ada di benakku saat
ini adalah, kenapa tidak ada orang yang sadar. Sadar akan apa makna di balik
lagu itu. Apa karena lagu itu berbahasa inggris sehingga orang-orang tidak tahu
apa artinya. Atau benar-benar tidak tahu kalau aku tadi menyanyi dengan segenap
hati dan hampir menagis menggebu-gebu di atas panggung. Tadi aku bukan
menyanyi, tapi aku sedang curhat. Mencurahkan segenap perasaan yang
membebabiku. Mencurahkan apa yang sedang aku rasakan. Sebenarnya aku bukan
menyanyi, tapi aku tadi berteriak dan menjerit. Hatiku menangis, menangis
karena patah hati. Di sana, di atas panggung itu aku mengungkapkan bahwa aku
akan menunggunya, menunggu sampai kapanpun dan aku akan tetap mencintainya. Wajahku
sudah memerah, air mataku sudah mulai jatuh, tapi mungkin karena aku memakai
make up tebal, orang-orang tidak menyadari bahwa aku mulai menangis. Menagis karena
dua hari sebelumnya aku patah hati, dua hari sebelum aku menampilkan bakat
tersembunyiku aku putus cinta. Dan lagu yang aku pilih sebulan sebelum
penampilanku, bisa sesuai dengan suasana hatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar